22.45

s0metHing stUpiD....

mimpi

Banyak kisah tentang dirinya. Ada yang bilang dia orang baik. Ada juga yang bilang, tak ada baik dalam dirinya. Tapi, aku pernah menghabiskan semalam bersamanya. Didinginya malam lalu… Masih melekat jelas dalam benakku. Hujan deras sore itu, membuatku harus bermalam di rumahnya. Awalnya, aku Cuma numpang berteduh. Tapi, bertambah malam, hujan bertambah deras. Dingin merayapi tubuh mungilku ini. Menusuk sampai ke tulangku. Aku menggigil, kedinginan. Sampai akhirnya, dia membuka pembicaraan. Kaku, tak seperti biasanya. ‘’Dingin ya?, ‘’ ucapnya lembut sambil menyorongkan secangkir teh hangat untukku. “Iya,” jawabku malas. Pembicaraan membosankan. Tak ada ujung juga tak ada pangkalnya, aneh. Tapi, pembicaran kami membawaku ke sesuatu yang berbeda. Baruku tahu tentang dirinya. Dia menceritakan seluk beluknya. Mengalir ceritanya. Tapi, aku tetap saja tak memperhatikannya. Bosan.Malam semakin larut, dingin juga semakin menjadi-jadi. Kompak. “Kamu kenapa?,” ucapnya, mengakhiri pembicaraan yang tak mengenakan tersebut. “Dingin..,” jawabku, singkat. “Dingin?” Dia mendekat, memelukku. Aku tak merasakan apa-apa, kecuali hangat yang mendalam.
“Santai saja, ada aku disini,” Malam semakin larut. Mataku redup untuk melihat. Dia memelukku erat, sampai pengap. Lalu diriku serasa melayang jauh ke dunia lain. Hangat dan lembut, sangat lembut.
…. Mataku terbangun saat mendengar jam weker meraung-raung. Ingin kubanting jam itu. Memekakan telinga. Tapi, ruangan ini terasa asing bagiku.Poster Chris Martin dengan gayanya bertengger di dinding. Di pojok sana, ada lukisan seseorang. Rambutnya bergaya mohawk uwat-awitan. Mata bundarnya memancarkan rasa cinta kasih sayang. Bibir tipisnya menyunggingkan senyum, senyum manis tentunya. Dia mengenakan kaos hitam dengan gambar tengkorak di bawahnya. Keren,, Kata temanku, dia jauh dari predikat keren, biasa saja. Tak pantas sebagai matahariku. Tapi, aku menilai dia lain. Dia lugu, polos, aku suka itu. Kuistirahatkan sejenak pikiran dan otakku. Kuingat-ingat. Dan, ternyata, baru kusadari aku telah kehilangan mahkotaku. Dia mengambilnya.Aku menjerit keras. Dalam hatiku tapi, aku gugup. Dia masih terlelap di sampingku, memegang tanganku. Ingin kuberlari. Aku merapikan diri. Kutinggalkan dirinya dan rumah sialan itu.Pagi, baru bangun dari tidurnya. Embun pagi itu tlaj menjadi saksi, betapa hancurnya hatiku ini. Sakit, tersaya-sayat. Aku berendam diri di bak mandiku. Biarpun dingin, tapi aku ingin menghilangkan parfumnya. Walau kubilas dengan air, tetap saja seperti ada dia di dalam diriku. Aku ingin menghilangkannya. Aku merasa diriku tak lagi berharga. Aku terlalu bodoh untuk di bodohi. Dan, aku tak menyangka, kalau dirinya berbuat begitu padaku. Aku menangis, meratapi kebodohanku.… Matahari sore menerobos celah-celah jendela kamarku. Aku, berdiam diri di kamar, sendirian merenungi nasibku. Haruskah kuakhiri hidupku?. Kepalaku berat sekali. Aku lelah, dan tertidur.…. “Emm…Mbak Jingga?”, ucap pembantuku dengan nada takut.Aku menatapnya tajam. Mungkin, pembantuku sudah tau, kalau aku tak mau diganggu dan diurusi dalam beberapa hari terakhir ini. “Mbak Jingga? Ada temennya”, ucapnya lirih “namanya Arai, dia pengen bertemu dengan Mbak?”. Hatiku terperenjat mendengar nama itu di sebut. Aku berlari menuju ruang tamu. Kulihat seorang lelaki, tampan, dia telah berubah. Tak ada rasa bersalah terpancar di wajahnya. Dia mungkin tak tahu, kalau hatiku hancur memikirkannya. “Arai?’, kataku menatap matanya. “Jingga?”, ucapnya sambil menyerahkan sepucuk surat berwarna merah hati.” Aku akan meninggalkanmu Jingga.” Aku terdiam. Berkaca-kaca. Tak rela dia meninggalkanku begitu saja. “Arai?” Dia memunggungiku. Berbalik menuju pintu.“Arai?”,kucegah dia. Sambil memegang tangannya.“Ingat kau pada malam itu?”, kataku berharap.“Takkan pernah kulupakan Jingga”“Duduklah”Aku kebelakang. Mengambilakan secangkir teh untuknya.“Minumlah”Dia agak ragu, melirik jam tangannya. Berpikir sebentar sambil menatap mataku.Lalu, secangkir the itu perlahan dihabiskannya.Dia berbalik, kembali ke pintu.“Selamat tinggal Jingga”“Arai…!” aku memeluk tubuhnya. Dia menatap sepucuk suratnya.“Bacalah surat itu Jingga”.Dia mohon diri. Air mataku meleleh melihatnya mengendarai motor meninggalkanku. Tak kusangka hatiku sangat kehilangan dirinya.Aku tak mau berpisah dengannya.Entah kenapa aku sangat kehilangan dirinya.
Kuusap butiran-butiran air mataku. Kucoba untuk menenangkan diri sejenak, menghilangkan bayangannya.
Kubaca sepucuk surat itu. Air mataku kembali bercucuran.
“Jingga,
Mimpi,
Kita tlah melewatinya
Hangat sperti matahari
Lembut seperti sepoi angina
Indah…
Aku hanya ingin mengucapkan:
Terimakasih..

Arai.

Pikiranku kacau. Kepalaku berat dan pusing. Aku tak rela melepaskan dirinya.

Malam ini, aku tak bisa tidur. Seperti malam-malam sebelumnya. Hatiku lelah dilanda rindu yang mendalam. Aku merindukan dirinya, ingin bertemu dengannya.
Aku meminum teh hangat, buatanku sendiri. Kupersiapkan untuk bertemu dengannya dan melepas rindu bersamanya. Di dunia lain, surga.
Kuteguk habis tehku.
“Selamat tinggal semuanya”

Here i'am, march '09

^^